Kantor
PT. Panguji Luhur Utama

Jl. Pahlawan Revolusi No.10, RT.9/RW.7, Pd. Bambu, Kec. Duren Sawit, Kota Jakarta Timur, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 13430

email : info@palumatravel.com

 

Sejarah Kota Jeddah Part I

Jika berbicara tentang tanah suci umat Islam, biasanya pikiran akan membayangkan Kota Makkah Al-Mukarramah dan Kota Madinah Al-Munawwarah. Masing-masing kota di Kerajaan Arab Saudi itu memang istimewa, setiap Muslim pasti ingin mengunjunginya minimal sekali dalam seumur hidup.

Di Kota Makkah Al-Mukarramah, Nabi Muhammad SAW lahir, disana pula terdapat Ka’bah, situs suci yang menjadi arah kiblat kaum Muslimin ketika melaksanakan shalat. Di Kota Madinah Al-Munawwarah, yang berjarak sekitar 440 kilometer dari kota tempat kelahiran Rasulullah SAW tersebut, Masjid Nabawi berdiri. Daerah permukiman yang dahulu bernama Yastrib itu juga merupakan lokasi makam Nabi SAW.

Di luar kedua kota suci itu, ada kota-kota lain di Jazirah Arab yang mempunyai nilai historis bagi Kaum Muslimin. Salah satunya adalah Jeddah, kota seluas 1.600 kilometer persegi ini berada di pesisir barat Arab Saudi yang menghadap Laut Merah. Total penduduknya mencapai 4,6 juta jiwa menurut sensus pada tahun 2021 lalu.

Secara etimologis, nama Jeddah berasal dari bahasa Arab, Jaddah atau Juddah, yang berarti ‘nenek.’ Konon, nama ini berkaitan dengan narasi yang disampaikan turun-temurun bahwa nenek moyang manusia yakni Siti Hawa, dikuburkan di daerah ini. Oleh karena itu, kota tersebut menjadi salah satu tempat yang biasa dikunjungi oleh wisatawan Muslim atau jamaah haji dan umrah.

Kini, Kota Jeddah termasuk daerah metropolitan di Arab Saudi. Secara geografis, kota ini terletak di sebelah pantai timur Laut Merah pada 309 derajat garis bujur timur dan antara 21 hingga 289 derajat garis lintang utara. Jaraknya dengan Makkah dan Madinah berturut-turut sejauh 80 dan 400 kilometer.

Secara demografis, penduduk Kota Jeddah cukup heterogen. Di dalamnya, terdapat berbagai macam suku bangsa di dunia, seperti Arab, Persia, Afrika, India, dan juga Melayu-Indonesia. Lanskap kota ini terbagi menjadi dua, yakni kawasan perkotaan modern dan lama. Area metropolitannya mencakup nyaris seluruh kota tersebut, termasuk distrik pusat bisnis dan pemerintahan seluas 47 kilometer persegi. Adapun kawasan kota tua yang disebut sebagai al-Balad memiliki luas 17,92 hektare. Di sana, terdapat berbagai bangunan cagar budaya yang didirikan sejak berabad silam dan terawat dengan baik. Al-Balad sejak tahun 2014 menyandang status sebagai salah satu situs warisan peradaban dunia versi UNESCO.

Menurut buku panduan yang diterbitkan Pemerintah Kota Jeddah, kota pesisir ini telah dihuni bangsa Arab sejak lebih dari 25 abad silam. Jauh sebelum industri minyak bumi menjamur di Kerajaan Arab Saudi, Jeddah telah digunakan para nelayan dari Suku Qudha’ah sebagai tempat transit kapal-kapal mereka usai menjaring ikan di Laut Merah. Lambat laun, orang-orang ini menjadikannya sebuah perkampungan. Selanjutnya, daerah pantai tersebut semakin berdenyut oleh aktivitas ekonomi dan budaya.

Ahmad al-Santanawy dalam kitab Dairah al-Ma’arif al-lslamiyah menuturkan, sejak tahun 648 Masehi Jeddah menjadi pintu masuk bagi mereka yang hendak mencapai Makkah dan Madinah dari Laut Merah. Fungsinya sebagai pelabuhan kemudian dikukuhkan oleh Utsman bin Affan, sang khalifah ketiga era Khulafaur rasyidin. Sejak saat itu, kota ini semakin berkembang dan memberikan kontribusi besar bagi bangsa Arab dan umumnya daulah Islam.

Pada masa Dinasti Umayyah dan Abbasiyah, pusat kekuasaan Islam berpindah dari Madinah berturut-turut ke Damaskus dan Baghdad. Geliat pertumbuhan ekonomi Jeddah pun turut terpengaruh pada zaman dua kekhalifahan tersebut. Bagaimanapun, kota ini tidak lantas diabaikan para khalifah. Beberapa raja Muslim mendirikan benteng-benteng yang kokoh untuk melindunginya.

Pada tahun 969 M, Dinasti Fathimiyah dari Aljazair menguasai Mesir dari Gubernur Ikhshidid Abbasiyah. Wangsa yang berhaluan Syiah ini memperluas wilayahnya hingga ke pesisir timur Arab, termasuk Jeddah dan sebagian Hijaz. Dengan cara itu, mereka mengembangkan jaringan perdagangan yang menghubungkan antara Mediterania dan Samudra Hindia melalui Laut Merah. Barang-barang dari Cina era Dinasti Song berlabuh di Jeddah. Begitu pula dengan rempah-rempah dari Nusantara.

Pendiri Dinasti Ayyubiyah, Shalahuddin al-Ayyubi, sukses merebut Baitul Makdis dari tangan Salibis pada tahun 1171 M. Tidak lama kemudian, ia mengambil alih Mesir dan sekaligus meruntuhkan Dinasti Fathimiyah. Ayyubiyah, wangsa yang berhaluan Sunni ini, lalu menaklukkan Hijaz dan juga Jeddah. Hingga awal abad ke-13 M, kepemimpinan para keturunan al-Ayyubi dapat menghadirkan kemajuan yang berarti bagi daerah tersebut. Mereka juga membangun banyak madrasah di sana serta memperbaiki infrastruktur pelabuhan setempat. Bandar ini kian menarik para pelaut dan pedagang Muslim dari India, Asia Tenggara dan Afrika Timur.

Bagikan Artikel
Admin
Admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *