Kantor
PT. Panguji Luhur Utama

Jl. Pahlawan Revolusi No.10, RT.9/RW.7, Pd. Bambu, Kec. Duren Sawit, Kota Jakarta Timur, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 13430

email : info@palumatravel.com

 

Sejarah Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW

Peringatan hari lahir Nabi Muhammad SAW atau Maulid Nabi SAW diyakini telah dikenal oleh masyarakat muslim Arab, setidaknya sejak tahun kedua hijriah. Namun ada pula yang meyakininya peringatan maulid telah ada sejak zaman Nabi SAW.

Terdapat beragam versi mengenai awal mula peringatan Maulid Nabi SAW, sebagian berpendapat peringatan tersebut dilakukan pertama kali pada saat Dinasti Fatimiyah berkuasa. Tapi ada pula yang berpendapat dimulai sejak masa Salahudin Al-Ayyubi.

Disebutkan, Khaizuran atau Jurasyiyah binti ‘Atha (170 H/786 M) yang merupakan istri Khalifah Al-Mahdi bin Mansur Al-Abbas juga ibu dari Amirul Mukminin Musa Al-Hadi dan Harun Al-Rasyid datang ke Kota Madinah.

Khaizuran memerintahkan agar penduduk Kota Madinah mengadakan perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW di Masjid Nabawi dan di rumah-rumah

Dari Madinah, Khaizuran kemudian pergi ke Kota Makkah dan melakukan perintah yang sama kepada penduduk Kota Makkah untuk merayakan Maulid Nabi SAW di Masjidil Haram dan rumah-rumah.

Karena pengaruhnya yang besar itu, Khaizuran mampu menggerakkan masyarakat muslim Arab untuk memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW. Hal ini dilakukan agar teladan, ajaran dan kepemimpinan Nabi SAW dapat terus menginspirasi umat Islam.

Sebagian besar ulama meyakini, Nabi Muhammad SAW. dilahirkan pada tanggal 12 Rabiul Awwal Tahun Gajah (570 M). Maka setiap tanggal tersebut diperingati dengan Maulid Nabi SAW.

Maulid Nabi di Indonesia

Maulid Nabi SAW juga diperingati oleh sebagian kaum muslim di dunia, termasuk Indonesia.

Peringatan Maulid Nabi SAW dilakukan dengan berbagai cara dan ekspresi. Di masyarakat Jawa, Maulid Nabi dirayakan dengan membaca manakib Nabi SAW di dalam sejumlah kitab seperti BarzanjiSimthud DurarDiba’Syaroful AnamBurdah, dan lainnya.

Selesai itu, biasanya masyarakat menyantap makanan bersama-sama yang disediakan secara gotong royong oleh warga.

Masyarakat Muslim tidak hanya bergembira merayakan kelahiran Nabi Muhammad SAW., tapi juga bersyukur atas teladan, jalan hidup dan tuntunan yang dibawa oleh beliau.

Di sejumlah tempat, seperti di keraton-keraton di Jawa peringatan Maulid Nabi SAW biasa disebut dengan Grebeg Mulud.

Di Sulawesi Selatan, Maulid Nabi SAW dirayakan dengan istilah Maudu Lompoa atau Maulid Akbar. Perayaan ini diselenggarakan bahkan lebih ramai dari pada hari raya Idul Fitri.

Meskipun masih terdapat perdebatan di kalangan ulama terkait perayaan Maulid Nabi SAW ini, tapi bagi kebanyakan umat Islam merayakan Maulid Nabi SAW mempunyai makna spiritual dan edukasi.

Momentum ini menjadi kesempatan bagi kaum muslimin untuk mempelajari lebih jauh tentang kehidupan dan ajaran Nabi Muhammad SAW.

Selain sejarah, perayaan Maulid Nabi SAW juga memiliki nilai makna diantaranya :

  1. Spiritual
    Setiap insan muslim akan mampu menumbuhkan dan menambah rasa cinta pada Rasulullah dengan Maulid. Luapan kegembiraan terhadap kelahiran Nabi Muhammad SAW merupakan bentuk cerminan rasa cinta dan penghormatan terhadap Nabi pembawa rahmat bagi seluruh alam (dijelaskan dalam Q.S Yunus: 58).
  2. Nilai Moral
    Nilai moral dapat kita petik dengan menyimak akhlak terpuji dan nasab mulia, serta kisah teladan Nabi Muhammad SAW. Pada peringatan Maulid SAW kita bisa mendapatkan nasehat dari ulama agar selalu berada dalam tuntunan sesuai syariat Islam.
  3. Nilai Sosial
    Memuliakan serta memberikan jamuan makanan para tamu, terutama dari golongan fakir miskin yang menghadiri majelis Maulid merupakan bentuk rasa syukur kepada sang Maha Pencipta. Hal ini sangat dianjurkan oleh agama karena memiliki nilai sosial yang tinggi.
  4. Nilai Persatuan
    Nilai persatuan dapat terjalin dengan berkumpul bersama dalam rangka bermaulid, bershalawat maupun berdzikir.

Berdasarkan penjelasan tersebut, maka dapat dipahami bahwa Maulid Nabi SAW merupakan perayaan atas kelahiran Nabi Muhammad SAW. Namun yang perlu diingat adalah bahwa Nabi Muhammad SAW merupakan Rasul utusan Allah SWT, maka dengan mengingatnya kita yakin bahwa Allah SWT merupakan Pencipta Maha Esa yang mampu memberikan kehidupan dan mewafatkan hambanya.

Bagikan Artikel
Admin
Admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *