Kantor
PT. Panguji Luhur Utama
Seperti Apa Sejarah Thawaf Dalam Haji dan Umrah ?

By : Fajrul Islamy A B
Thawaf adalah satu satu rukun Ibadah Haji dan Umrah, bagaimana latar belakang adanya thawaf dalam Ibadah Haji dan Umrah?
Makna dari kata thawaf sendiri adalah berputar mengelilingi Ka’bah yang dimulai dari sudut Hajar Aswad dan diakhiri di sudut Hajar Aswad juga setelah mengelilingi sebanyak tujuh putaran dengan menjadikan bagian kanan tubuhnya menghadap ke Ka’bah.
Pada masa lalu, orang-orang arab jahiliyah mengerjakan thawaf dengan tata cara yang berbeda dengan yang diajarkan oleh Rasulullah SAW. Mereka melakukan thawaf di sekeliling Ka’bah pada malam hari, bertelanjang tanpa busana, bertepuk-tepuk dan bersiul.
Hal tersebut sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur’an Surah Al-Anfal ayat 35 yang artinya :
“Sembahyang mereka di sekitar Baitullah itu, lain tidak hanyalah siulan dan tepukan tangan. Maka rasakanlah azab disebabkan kekafiranmu itu.” (QS. Al-Anfal: 35)
Asal-usul thawaf dimulai ketika Allah SWT hendak menjadikan manusia khalifah di muka bumi. Malaikat kemudian khawatir manusia akan membuat kerusakan di muka bumi dan menumpahkan darah. Kisah tersebut direkam dalam Al Qur’an di surat Al Baqarah ayat 30. Dalam surat tersebut, Allah berfirman :
“Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: ‘Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi’.

Mereka berkata: ‘Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?’. Tuhan berfirman: ‘Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui’.”
MendengarNya, Malaikat langsung bersujud karena merasa takut terhadap murka Allah SWT. Mereka bersujud dan menangis, agar Allah SWT mengampuni dari murkaNya. Selain bersujud dan memohon ampun, para malaikat kemudian mengelilingi Arsy cukup lama.
Melihat hal tersebut, Allah SWT yang Maha Pengasih dan Penyayang kemudian menurunkan rahmat kepada para malaikat. Allah SWT kemudian menciptakan tempat yang disebut Baitul Makmur, yang berada tepat di bawah Arsy. DiperintahNya para malaikat thawaf (mengelilingi) rumah tersebut dan meninggalkan Arsy. Malaikat pun mematuhi perintah Allah SWT dan melakukan thawaf mengelilingi Baitul Makmur. Ada 70.000 malaikat yang thawaf di Baitul Makmur dalam satu hari satu malam.
Pada permulaannya, peristiwa thawaf berbeda dengan pelaksaan haji yang dilakukan sekarang ini. Melansir pada buku Sejarah Ibadah oleh Syahruddin El Fikri, sebagaimana yang diterangkan dalam Al-Qur’an, setelah pembangunan Ka’bah, Nabi Adam AS diperintahkan untuk melaksanakan thawaf, yaitu mengelilingi Ka’bah sebanyak tujuh kali. Kegiatan serupa juga dilakukan oleh para malaikat Allah. Di dunia, mereka mengelilingi Baitullah dan di sisi Allah SWT mereka mengelilingi Bayt al-Ma’mur.
Pelaksanaan thawaf juga diikuti oleh para Nabi-nabi setelah Nabi Adam AS. Ibnu Katsir dalam kitabnya Bidayah wa an-Nihayah menyebutkan dari Imam Ahmad bin Hanbal Rahimahullah bahwa Ibnu Abbas RA berkata :
“Ketika Nabi SAW sedang lewat di lembah Usfan pada waktu berhaji, beliau berkata, “Wahai Abu Bakar, lembah apakah ini?” Kemudian, Abu Bakar menjawab, “Lembah Usfan.” Nabi bersabda, “Hud dan Saleh AS pernah melewati tempat ini dengan mengendarai unta-unta muda yang tali kekangnya dari anyaman serabut. Sarung mereka adalah jubah dan baju-baju mereka adalah pakaian bergaris. Mereka mengucapkan talbiyah melaksanakan ibadah haji ke Baitullah.
Begitu pula dengan apa yang dilakukan oleh Nabi Ibrahim dan Ismail As, ketika mereka telah usai dalam pembangunan Ka’bah, keduanya melakukan thawaf sebagai penghormatan pada Baitullah. Demikian pula yang dilakukan oleh Nabi-nabi lainnya yang melakukan hal serupa.
Gerakan mengelilingi Ka’bah mengacu pada gerakan perputaran benda-benda langit yang bergerak pada porosnya. Hal tersebut memberikan makna berupa bentuk kepatuhan benda-benda langit kepada hukum Allah yang mengatur seluruh jagat alam.


