Kantor
PT. Panguji Luhur Utama

Jl. Pahlawan Revolusi No.10, RT.9/RW.7, Pd. Bambu, Kec. Duren Sawit, Kota Jakarta Timur, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 13430

email : info@palumatravel.com

 

Gua Hira : Tempat Rasulullah SAW Menerima Wahyu Pertama

Gua Hira yang berada di Jabal Nur terletak di sebelah timur laut Masjidil Haram, yang berada di jalur jalan Thaif (Sael), sekitar 4 km dari Masjidil Haram. Puncak Gua Hira mirip dengan punuk unta, dengan luas sekitar 5 km². Gua Hira merupakan tempat Nabi Muhammad SAW menyendiri saat beribadah sehingga terpancarkan nur atau cahaya nubuwwah.

Di bagian depan terdapat belahan yang dapat memungkinkan kita untuk naik dan memandang ke arah Masjidil Haram. Gua Hira adalah tempat yang digunakan Rasulullah SAW untuk menyendiri dari keramaian sebelum beliau diangkat menjadi seorang Rasul. Malaikat Jibril yang turun dan datang kepadanya untuk yang pertama kali ketika beliau ada di Gua Hira.

Di Gua Hira ini Nabi Muhammad SAW menerima wahyu pertama, yaitu Surah Al-Alaq ayat 1-5 yang disampaikan oleh Malaikat Jibril. Turunnya wahyu pertama diriwayatkan Bukhari dan Muslim dari Siti Aisyah RA, ia berkata : “Turunnya wahyu pertama yang diterima oleh Rasulullah SAW dalam bentuk mimpi ketika waktu beliau tidur. Biasanya mimpi itu terlihat jelas oleh beliau, seperti jelasnya cuaca pagi. Semenjak saat itu hati beliau tertarik untuk mengasingkan diri ke Gua Hira. Dan di situ beliau beribadah selama beberapa malam, dan tidak pulang ke rumah istrinya Siti Khadijah RA.

Kemudian beliau membawa perbekalan yang cukup. Setelah perbekalannya habis, beliau kembali kepada Khadijah, untuk mengambil lagi perbekalan secukupnya. Lalu beliau kembali ke Gua Hira, pada suatu ketika datang kepadanya kebenaran (wahyu), yaitu sewaktu beliau masih berada di Gua Hira.

Malaikat Jibril datang kepadanya, lalu berkata: “Bacalah”

Nabi menjawab : “Aku tidak bisa membaca” kemudian Nabi SAW menceritakan maka aku ditarik dan dipeluknya hingga aku kepayahan, lalu aku dilepaskannya dan di suruh membaca.

Malaikat Jibril berkata: “Bacalah”


Aku menjawab: “Aku tidak bisa membaca” Lalu aku dilepaskannya dan di suruh membaca.

Malaikat Jibril berkata: “Bacalah”


Aku menjawab: “Aku tidak bisa membaca” Maka aku ditarik dan dipeluknya lagi untuk ketiga kali. Kemudian aku dilepaskannya sambil dia berkata:

اِقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِيْ خَلَقَۚ – خَلَقَ الْاِنْسَانَ مِنْ عَلَقٍۚ – اِقْرَأْ وَرَبُّكَ الْاَكْرَمُۙ – الَّذِيْ عَلَّمَ بِالْقَلَمِۙ- عَلَّمَ الْاِنْسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْۗ


Artinya: “Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan! Dia menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah! Tuhanmulah Yang Maha Mulia, yang mengajar (manusia) dengan pena. Dia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya. (QS Al-Alaq 1-5)


Setelah wahyu pertama turun, kemudian dengan melalui proses rangkaian yang panjang Nabi Muhammad SAW menjadi nabi dan rasul sampai Isra dan Mi’raj.

Sementara itu, di dalam buku Fikih Sirah karya Said Ramadhan Al-Buthy mengisahkan bahwa gambaran ketakutan yang dialami oleh Rasulullah SAW ini juga semakin tebal karena beliau mengira yang menemuinya di dalam Gua Hira adalah sebangsa Jin.

Sebenarnya Allah SWT tentu sanggup untuk menenangkan hati Rasulullah SAW dengan memberi tahu bahwa yang mendatanginya alah Malaikat Jibril. Namun, Allah SWT berkehendak untuk menonjolkan pemisahan antara pribadi Muhammad SAW sebelum diangkat menjadi rasul dan sesudahnya.

Bagikan Artikel
Admin
Admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *